Pesta itu baru aja usai. Ya, RAIMUNA NASIONAL IX TAHUN 2008 yang diselenggarakan di Jakarta tepatnya di Buper Taman Wiladatika Cibubur tanggal 27 Juni - 7 Juli 2008 ditutup dengan derai air mata ribuan anak bangsa peserta RAINAS. Tangis haru, bahagia, sedih bercampur aduk dalam hati mereka.
Sedih, karena selama lebih dari 10 hari dalam kebersamaan dan persaudaraan, kini mereka harus berpisah tuk kembali ke kampung halamannya masing-masing.
Bahagia, karena tugas berat dan tanggung jawab yang mereka emban tuk menjaga nama baik serta mempersembahkan yang terbaik bagi kontingen telah berhasil dilaksanakan.
Menjadi peserta RAINAS emang jadi dambaan dan kebanggaan sendiri. Gimana ngga bangga ngga semua anak lho bisa ngikuti pesta akbar nasional lima tahunan ini. Seleksinya ketat banget, ada gengsi sendiri bisa ngikuti acara ini. Apalagi pesertanya ngga cuma utusan dari Kwarcab seluruh Indonesia, tapi dari negara tetangga ikut berpartisipasi juga kok. Ada Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand malah Inggris ikut juga Lho…
Raimuna yang mestinya dibuka secara resmi tanggal 27 Juni 2008 oleh Presiden RI Soesilo Bambang Yudhoyono terpaksa diundur menjadi 28 Juni karena kesibukan beliau. Sehingga hanya Upacara Adat Bhinneka Tunggal Ika disertai penancapan kapak yang menandai dimulainya seluruh rangkaian acara pertemuan Pramuka Penegak dalam Rainas ini. Upacara Adat Bhinneka Tunggal Ika hanya dilaksanakan pada upacara Rainas, berarti hanya sekali dalam 5 tahun. Barisan Bhinneka Tunggal Ika terdiri dari 30 pasang Pramuka Penegak Pandega dengan pakaian daerah masing-masing yang dipimpin oleh Ketua Dewan Adat Agung.
Waktu pelaksanaan Rainas yang cuma 10 hari dirasa sangat kurang. Terlalu singkat untuk menjalin suatu persaudaraan antar peserta. Tapi justru dengan waktu yang singkat ini telah menimbulkan banyak kesan yang sangat mendalam bagi para Pramuka Penegak Pandega peserta Rainas ini. Suasana keakraban sangat terasa ketika memasuki area perkemahan. Jika kita berjumpa dengan sesama peserta, mereka akan serta merta menyapa, SELAMAT PAGII KAK !! MALAM KAAKK !!! Atau dengan bahasa sandi sesama Kwarda (Kwartir Daerah). Misalnya sandi untuk Jateng adalah Cakra..!! yang dijawab dengan Jaya..!!. Cakraaa!! Jayaaaa!! Cakraa..! Cakraa! Cakraa!! (Jayaa..! Jayaa..!Jayaa..!!)
Upacara Penutupan ditutup secara resmi oleh Wakil Presiden Yusuf Kalla tanggal 7 Juli pagi hari sekitar pukul 09.00 WIB. Upacara Penutupan ini ternyata membawa makna dan arti sendiri bagi Pramuka Penegak dan Pandega peserta RAINAS. Karena inilah momentum bagi mereka tuk berpisah dan entah kapan ketemu lagi.
Pesta itu telah usai, membawa kenangan dan pengalaman bagi masing-masing peserta RAINAS yang berjumlah sekitar 7000 orang, utusan 363 Kwarcab dari 30 Propinsi di Indonesia. Ada cerita bahagia, karena punya banyak kenalan, ada cerita sedih musti pisah ama pacar barunya (CINLOK NIH…..), ada lagi yang nangis haru karena di RAINAS inilah mereka menemukan apa arti persaudaraan dan kebersamaan. Perbedaan suku dan ras bukanlah alasan untuk tidak saling mengenal dan berpecah belah, tapi dengan perbedaan itulah kita jadi tau apa makna persamaan.
Banyak cerita seru yang bisa disimak dari temen-temen. Mulai dari gimana kita muter-muter karena dikerjain Panitia, sampe sepeda yang ilang selama 3 hari karena diambil panitia. Ngga ketinggalan juga wabah CINLOK (CINTA LOKASI) yang melanda penghuni perkemahan dan kesurupan yang menimpa beberapa orang peserta. Pokoke seru!!! Meski cerita singkat (karena ruang MADING yang terbatas) ngga ngurangi isinya kok. Semoga bisa bermanfaat dan jadi pengalaman buat temen-temen nantinya. Pingin tau lebih banyak? !! Ini dia..ceritane !!
Hari Kedatangan
Uppsss!, plong rasanya tiba di Buper Taman Wiladatika Cibubur. Karena selama hampir 1½ jam kami sempet stress dikerjain Panitia. Gimana ngga stress, masak mau masuk ke Buper saja kami ditolak dan dilempar ke sana ke mari, padahal kami bareng sama panitia pemandu. Kami semua marah tak terkecuali Pak Sopir yang merasa dilecehkan karena di tolak masuk dari pintu ke pintu. Duh, gimana sih kerja panitia, masak tidak ada koordinasi antara Panitia Pemandu dengan keamanan yang menjaga pintu masuk ?.
Persoalan ternyata belum selesai sampe disini. Setelah udah diijinkan masuk, kami ditanyai SIM C (Surat Ijin Masuk) dan SIM T (Surat ijin mendirikan tenda). Kami emang belum sempet ngurus daftar ulang, karena kondisi kami masih kecapean. Pikir punya pikir, daripada kami istirahat di luar sementara barang bawaan sangat banyak, terpaksa deh kami ngakali panitia. Kami ngomong sama penjaga pintu gerbang kalo Kontingen Kota Bekasi punya dua bis dan bisa satunya yang mbawa surat-surat ijin tertinggal di belakang dan sebentar lagi akan nyampe. Untungnya panitia percaya ! Jadi sukseslah gantian kami yang ngerjain panitia, he..he..he…he…Rasain Lu !.
Setelah kaplingnya ketemu, langsung deh kami mendirikan tenda. Tenda kami berada di Kelurahan palinggg jauh dari panggung utama, yaitu kelurahan 4, RT 4 RW 2 kapling nomer 2. Sebelah kanan bersebelahan dengan kontingen Pasaman Barat (sumatera Utara) kirinya dari Kepulauan Bangka, dibelakangnya Gresik (Jatim) dan Fak Fak (Papua), depannya dari Kalimantan. Untuk tenda putri juga sama.
Tenda putra dan puteri dipisahkan lebih dari 1 Km jauhnya.. Bisa dibayangin seandainya kami butuh sesuatu ke putra atau sebaliknya, cukup bolak-balik 2 x saja kami langsung KO !. Untung deh kontingen Kota Bekasi mbawa dua sepeda, jadi kami agak sedikit ringan.
Ngomong-ngomong soal sepeda, ada cerita menarik nih.Ini soal kesialan kita.
Baru dua hari bawa sepeda, dua-duanya langsung hancur. Sepeda yang satu ban depannya gembos karena bocor, sementara sepeda yang satunya lagi ngga kalah menderitanya, gantian ban dalem belakang yang sobek. Alhasil, terpaksa deh dua-duanya kita bawa ke bengkel and habis 41 ribu. Sial banget!
Rupanya kesialan kita ngga berhenti sampe di sini, setelah kedua sepeda andalan kita itu beres, and kita pake, kemudian diparkir di tempat parkir, selang beberapa saat langsung hilang diembat orang. Duh Gusti apes tenan !.
Selama 3 hari sepeda itu lenyap ngga tau rimbanya. Untunglah, Tuhan masih menolong kita, ketika lagi jalan-jalan ngga sengaja kita ngliat sepeda itu dibawa salah seorang panitia cewek. Temen-temen sempet emosi juga ngliat sepeda kita di bawa orang lain. Pikiran kita, nah ini dia œmalingnya…harus ketangkep nih..! Tanpa ba..bi…bu.. kita berempat langsung menyetop si cewek tadi. Setelah melalui negosiasi yang alot sampe melibatkan aparat kelurahan perkemahan dan disertai bukti-bukti yang cukup, akhirnya kita berhasil mbawa sepeda itu pulang ke kandangnya. Ternyata panitia tadi salah ambil sepeda. Uh.slamet-slamet.padahal kita sempat dag..dig..dug abis sepeda itu pinjem punya Mas Bangun sih… Thanks God !! Kalo sampe ilang, waduh bisa-bisa kita urunan lagi padahal duit udah bokek!
Ngikut kegiatan Raimuna emang ngga beda ama plesir liburan. Mengasyikan banget. Gimana engga enak, pagi sampe sore kami diisi dengan berbagai kegiatan menarik, baru, dan juga seru, seperti kegiatan wisata, arung jeram, panjat tebing, mendaki gunung, broadcasting, biopori, IT dsb. Malemnya kami dihibur kesenian daerah dari para peserta rainas yang tempatnya di lapangan utama. Yang lebih asyik lagi, SuperGlad, Cangcuters, n coklat menghibur kami juga lhoo.. Jadi kayak nonton konser gratisan deh..Kalo ngga ikut RAIMUNA mana mungkin kami bisa ketemu mereka ya Tho..?.
Sementara itu diluar Buper ada juga pameran (stand) namanya RAIMUNA EXPO 2003 yang diikuti oleh instansi pemerintah, perbankan, kerajinan, stand pramuka dan stand lain yang meriah abisss….. Pameran ini juga diikuti peserta dari berbagai propinsi di Indonesia. Tak ketinggalan Pasar rakyat juga menghibur pengunjung dengan band-band lokalnya. Di situ juga nyediain berbagai macam souvenir dari mulai kaos Rainas, pernik-pernik, gantungan kunci, stiker tas-tas dsb.., Benar-benar kami dimanjakan disana, yang ngga bawa duit banyak siap-siap gigit jari deh….
Love is Blind, pepatah itu kadang ada benarnya juga. Seperti halnya di RAINAS ini, yang namanya cinta emang bisa hinggap pada siapa aja dan pada situasi apapun juga. Penasaran ? Kalo kita pingin nonton hiburan malam hari di Lapangan Utama, banyak kita temui temen-temen peserta yang saling berpasangan, berduaan, dan bergandengan, padahal mereka beda kontingen (bisa dilihat dari uniform yang mereka pakai). Wah, ngiri deh kalo ngliat mereka. Kayaknya mesra and romantis banget, padahal baru beberapa hari kenal. Ternyata perbedaan suku dan ras tidak menghalangi cinta untuk bersemi di hati mereka. Ah….dasar ABG !!
Situasi dan kondisi di Buper emang sangat mendukung, suasana malam yang dingin kayak di Moga, langit cerah berhiaskan purnama, jam malam yang nyampe jam 11, ditambah pertunjukan musik, nyanyian dan tarian, seakan menyuburkan benih-benih cinta di hati mereka. Dunia seakan milik berdua, ceilleeee..(trus yang laen kemana, ngontrak ??)
Ngga salah kalo mereka pada terkena CINLOK. Cewek-ceweknya emang gampang banget akrab and ayu-ayu tenan. Saya aja sampe kesemsem ama cewek Fak-Fak, Papua (Irian) namanya Lina. Gila bener, nih cewek cakepnya minta ampun, udah gitu orangnya baeee..kk… banget !!. Heran deh orang Papua kok ada yang seperti ini ya? Setelah ada PEDEKATE singkat, baru diketahui jebule si Lina ini keturunan Jawa. Bapaknya asal Semarang, dan ibunya asli Papua. Lina sendiri lahir di Papua, dan ngga bisa ngomong Jawa. Maen ke tenda Fak Fak, Papua emang mengasyikan, ceweknya cakep-cakep n ramah-ramah. Emang sih ada yang asli Papua, orangnya iteeemm…banget. Tapi mereka baek juga kok, nyatanya kami maen di tenda langsung di kasih sagu makanan asli Papua.
Sewaktu mau pamitan pulang ke Kota Bekasi, rasanya berat hati ini ninggalin Lina.. Tapi musti gimana lagi?? . Dengan berat hati terpaksa saya ninggalin Lina. Sampe di rumah pun bayang-bayang Lina selalu menghiasi tiap mimpiku. Muka bulat, dan rambut hitam sebahu itu seakan tak mau lepas dari ruang pikiranku. Duh, Lina-Lina kapan yang kita bisa berjumpa lagi??
Senin, 17 November 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
1 komentar:
Pasaman barat Sumatera barat kak, bukan Sumatera Utara. Salam kenal kak, saya dari kwarcab 16 kota Pariaman, sumbar. Saya insya Allah peserta raimuna 2017 ini. Pengalaman kakak, bisa jadi rujukan bagi saya . Terimakasih
Posting Komentar